Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Pahlawan di Balik Layar

Bila kalian pernah berkunjung ke Mesjid Kampus, yang letaknya tak jauh dari gedung Fakultas Kedokteran UNLAM Banjarbaru, cobalah perhatikan. Kalian akan menemui sosok-sosok perempuan dengan jilbab yang lebar. Kemudian akan terlihat pula kumpulan lelaki yang duduk bersila dan tampak serius, beberapa dari mereka ada yang berjanggut, maka aku adalah salah satu dari kumpulan lelaki yang biasa disebut ikhwan, sebutan yang aku rasa telah mengalami penyempitan.

***

“Tidak bisa! Silakan kamu keluar!”

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Aku yang sedari tadi duduk kaku menahan gugup, takut, penuh harapan, kini seolah tak dapat berbuat apa-apa. “Ya Rabb tolong hamba.” batinku. Kukumpulkan kembali puing-puing semangat dan keberanian.

“Maaf sebelumnya Pak, apakah Bapak masih bisa mempertimbang…”

“Cukup!”

Tak sempat kuselesaikan, Pak Nurdin begitu cepat mengambil alih kendali.

“Saya tidak setuju dengan alasan Pendidikan Agama sudah termasuk mata kuliah yang wajib diambil setiap mahasiswa. Kalau kalian ingin membuat kajian Islam intensif umum yang sifatnya wajib untuk mahasiswa muslim, itu sama saja mubazir!” lontar Pak Nurdin lantang.

“Baik Pak, terima kasih.” jawabku singkat. Jujur,aku malas berdebat dengan beliau. Posisi beliau yang tercatat penting membuat aku enggan seolah tak ingin mencari masalah.

“Silakan kalian membuat kajian seperti itu. Toh selama ini, saya tidak pernah kan melarang kajian Islam yang diadakan KSI. Perlu ditekankan, kajian Islam itu sifatnya wajib untuk yang anggota KSI saja. Kecuali semua mahasiswa di kampus ini anggota KSI, baru saya ijinkan. Ha ha ha ha. Dipikir semua orang suka apa ikut kajian. Sana keluar! Saya sibuk.” ucap beliau sembari tersenyum sinis.

“Iya Pak. Assalamu`alaikum.” kuucapkan salam sembari keluar dari ruangan ber-AC ini.

***

“Hei. Akh Rija…”

Sayup-sayup kudengar ada yang memanggil namaku. Pasti seorang Ikhwan. Jelas saja, dia memanggil dengan sebutan Akh. Sebutan yang seolah hanya milik kelompok Ikhwan saja. Mahasiswa biasa yang bukan aktivis, seakan tak berhak menyandang gelar Akhi Ukhti. “Ck ck ck ck. Salah besar.” gumamku.

“Assalamu`alaikum.” salam seseorang sambil menepuk pundakku.

“Wa`alaikumussalam.” jawabku sambil menoleh. “Akh Fariz. Yang tadi memanggil ya? Afwan akh.”

“Santailah. Ada apa Akh? Nampaknya antum begitu lesu?”

“Begini akh, proker kaderisasi ana, kajian Islam intensif umum yang ana usulkan wajib dan dimasukkan dalam mata kuliah Agama, ternyata tidak disetujui oleh Pak Nurdin.”

“Inna lillah. Sabarlah Akh, Kita pasti akan berhadapan dengan beragam cobaan sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah . Kader dakwah harus tegar Akh dalam menghadapi ini semua.”

“Subhanallah. Luar biasa akh. Ana bersyukur punya saudara seperti antum. Syukron Akh.”

“Afwan. Inilah pentingnya kekuatan ukhuwah Akh. Oh iya, di Masjid Kampus sore ini ada kajian dengan Ustadz Rachman tentang Al Ghozwul Fikri. Datang ya Akh!”

“Insya Allah, nanti ana jarkomkan juga ke tiap angkatan Akh.”

“Sip.”

***

Jika kebetulan kalian bertanya kepada setiap mahasiswa di Kampus ini, bisa dipastikan jika mereka pasti selalu menerima jarkom sms terkait kajian yang diadakan Kelompok Studi Islam (KSI). Tapi, bisa dipastikan jika hanya 1 atau 2 bahkan mungkin tidak ada mahasiswa Muslim di luar anggota KSI yang mau berhadir. Hingga akhirnya terciptalah sebutan 4L (Loe Lagi Loe Lagi) untuk mereka para Ikhwan dan Akhwat yang rutin datang. Fenomena ini bukan rekaan, murni tanpa skenario.

***

Kulangkahkan kaki memasuki masjid kampus.

Sungguh sejuk mesjid ini. Angin sepoi-sepoi berembus, membuat aku lupa akan kejadian tadi pagi. Dengan saksama kudengarkan ceramah oleh Ustadz Rachman.

“Ikhwah Fillah, Al Ghozwul Fikri artinya perang pemikiran. Metodenya sekarang adalah 3F, Food, Fashion, dan Fun. Berhati-hatilah wahai Ikhwah Fillah.”

“Luar biasa usatadz ini.” batinku.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.00 WITA, kajian pun berakhir.

Kunyalakan mesin motorku. Kutancap gas menuju rumah kontrakan yang letaknya cukup jauh dari kampusku. Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan seorang lelaki tua yang bersepeda di pinggir jalan. Kuturunkan kecepatan hingga 20 km/jam. Kulihat lewat spion, siapakah lelaki itu, rasa-rasanya aku kenal. Benar saja. Pak Jarno rupanya, satpam yang biasa bertugas membuka dan menutup seluruh gedung di Kampus, pernah juga kulihat beliau membersihkan ruangan. Kemudian aku berlalu, moodku enggan menegur beliau.

***

”Baiklah kita akhiri majelis ilmu ini dengan mengucap hamdalah, istighfar, dan doa kifaratul majelis”

“Subhaanakalloohumma wa bihamdika ayhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubuilaik”

Tiba-tiba seorang akhwat mengagetkanku. “Akh, kami ijin duluan soalnya takut pulangnya magrib.”

“Tafadhol Ukh.” jawabku tegas.

Satu per satu ikhwah meninggalkan ruangan. Aku tertinggal sendiri karena harus menyelesaikan amanah sebagai koor perlengkapan. Dengan sigap kurapikan kursi-kursi, kusimpan LCD dan laptop, kumatikan AC, kemudian aku beranjak keluar. Alangkah terkejutnya saat aku berpaling usai menutup pintu.

“Pak Jarno.” spontan aku menyapa.

“Udah selesai nak acaranya?” sahut Pak Jarno.

“Alhamdulillah sudah Pak.”

“AC dan kursi di dalam?”

“Oh, sudah Pak tadi saya bereskan.”

Pak Jarno sejenak diam. Kemudian berkata “Makasih nak, Bapak udah dibantu.”

“Wah, Bapak ini kayak apa aja, memang sudah tugas saya Pak. He he he.”

“Enggak nak, ini memang menjadi tugas saya.” Pak Jarno tersenyum.

Ku balas senyum beliau. Kemudian aku teringat, ada sisa konsumsi 1 nasi kotak. Kuserahkan saja kepada beliau pikirku.

“Ini buat bapak.”

“Wah gak usah repot-repot, buat kamu aja.”

“Ambillah Pak, ini rezeki untuk Bapak.”

Pak Jarno langsung mengambil seraya berkata “Makasih Nak. Boleh aku tahu siapa namamu?”

“Saya Rija, Pak”

Itulah sekilas perkenalan dengan Pak Jarno. Bukan siapa-siapa. Bukan orang istimewa setingkat Pak Nurdin. Namun sejak saat itu, tiap kali kami berpapasan, selalu saling tegur dan sapa. Parah juga, aku yang sudah hampir 2 tahun di kampus ini, baru sekarang berkenalan dengan beliau.

***

Sore hari, seusai pulang Syuro. Aku bermaksud mengambil titipan di pos satpam. Ada Pak Jarno tentunya. Tiba-tiba beliau langsung bertanya.

“Ja, boleh bapak nanya sesuatu?”

Sontak aku kaget. Kali ini Pak Jarno begitu serius. “Iya Pak, silakan.” jawabku.

“Nak, bapak percaya kalau kamu bukan pengikut aliran macam-macam dan sebagainya. Iya kan?”

Deg. Penyataan sekaligus pertanyaan ini seolah menghantam dadaku.

“Eh, iya pak, memangnya ada apa Pak?” aku balik bertanya.

“Entah mengapa nak, ada saja yang berpikiran negatif dengan aktivitas kalian. Mungkin.., karena kalian nampak begitu sibuk dengan berbagai aktivitas.”

“Begini Pak, insya Allah yang kami lakukan ini murni untuk menolong Agama Allah, menegakkan syariat untuk mewujudkan kampus serta masyarakat yang madani, Pak.” tuturku singkat.

***

Kini aku lebih akrab dengan Pak Jarno dan beberapa satpam serta cleaning service lainnya. Dari merekalah, aku mengetahui unek-unek mereka selama ini dengan mahasiswa. Kekesalan saat ada beberapa mahasiswa yang kurang bertanggung jawab, berbicara kurang sopan, kadang suka memerintah, dan selalu minta dilayani. Termasuk beberapa pandangan mereka mengenai aktivis kampus.

“Kalau menurut bapak, aktivis itu memang terlihat eksklusif di mata masyarakat. Wong penampilannya saja udah sangat beda. Yang laki kumpulnya sama laki, yang wanitanya gak mau kalau berjabat tangan dengan laki-laki.” Pak Jarno berurai panjang lebar.

“Saya minta maaf sebelumnya Pak. Untuk soal pakaian atau mungkin tingkah laku kami selama ini. Bukannya kami ingin tampil berbeda dengan orang kebanyakan Pak, tetapi apa yang kami lakukan ini semata-mata memang sudah kewajiban yang tercantum di dalam Al-Qur`an.” tanggapku dengan lembut.

“Iya nak, untuk itu bapak setuju. Gini aja pesan Bapak…” Pak Jarno sesaat terdiam.

“Cobalah sedikit lebih peka nak!”

Jlebbb. Aku terdiam. Sungguh dalam kata-kata beliau.

Hening sejenak.

Tiba-tiba selintas ide muncul, berputar-putar dibenakku.

***

# ide apakah itu? karena cerpennya gak menang, jadinya gak dilanjutin deh, biar pembaca penasaran, hahaha :D

Read More......

Sabtu, 30 Juli 2011

Puisi Terakhir (Cerpen Putih Abu-Abu, ditulis kelas 1 SMA, saat masih labil :D )

Siang yang panas. Untung kafe ini memasang pendingin. Gemericik air dari patung ikan di pojok ruangan membuat Putri merasa tenang. Dia berusaha menikmati secangkir coklat panas yang tersaji di hadapannya. Putri melamun sembari memikirkan kejadian tadi pagi, saat dia berbicara denganDewa.
“Putri, sebentar !” Dewa memanggilnya.
“Iya, ada apa?” sahut Putri.
“Apakah hari ini kelas kalian ada jadwal dengan pak Suryo?” tanya Dewa.
“Iya benar.” jawab Putri.
“Kalau begitu aku titip ini, tugas dari pak Suryo untuk kelas kalian, kebetulan beliau sedang berhalangan.” kata Dewa.
“Baiklah akan ku…..”
Belum selesai Putri berbicara, tiba-tiba Dewa langsung pergi menghilang.
Dalam hati Putri berkata. Tampannya Dewa itu. Rambutnya yang hitam legam, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, kacamata yang membingkai sorot mata yang tajam, bibir tipis yang selalu tersenyum, rahang yang kokoh. Kemeja yang membalut sosok tinggi ramping itu, menggemakan kharismanya ke seluruh penjuru. Mengetuk-ngetuk pintu cinta di dalam hati Putri.
“Dewa…….”
Putri meneguk lagi coklat panasnya yang kini mulai menghangat. Dan tiba-tiba ponselnya berdering.
“Halo, ada apa Vit?” sahut Putri.
“Cepat ke kampus Put! Teman-teman sudah ngumpul di lab buat praktikum fisika.” balas Vita.
“Oke, aku kesana sekarang.”
Spontan Putri mengambil kunci motor dan langsung pergi bergegas menuju kampusnya.
*****
Putri pulang ke rumah lewat tengah malam. Sepi.
Bagas membukakan pintu. “Malam, Kak. Capek?”
“Belum tidur?” sapa Putri hangat. Adikku ini pekerja keras seperti kakaknya. Gumam Putri dalam hati.
“Nih, banyak kerjaan.”
Ia menunjukkan hamparan kertas-kertas di sekitar laptopnya
Putri tersenyum.” Kalo gitu lanjuti deh. Jangan tidur terlalu larut ya,” kata putri sambil menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Sesampai di kamarnya Putri tidak langsung tidur. Dia membuka laptopnya dan mulai menuliskan baris demi baris puisi.
Pukul 03.00 dinihari, Putri baru tertidur. Setelah dia merajut kata-kata indah penuh makna yang selalu tertuju kepada cinta pertamanya. Dewa.
Puisi tersebut berisikan kata-kata cinta yang abadi. Bagaimana tidak, Putri menyukai Dewa sejak dia masih SMA. Walaupun Dewa, terkesan cuek dan sinis kepadanya. Namun cintanya tak pernah berpindah ke lain hati. Entah sampai kapan Putri memendam perasaannya kepada Dewa. Dia hanya mengungkapkan cinta pada kata demi kata dan baris demi baris dalam setiap puisinya.
*****
Putri tertidur. Sementara Dewa terbangun. Kemudian Dewa mengambil air wudhu untuk sholat tahajjud. Dalam sholatnya, Dewa berdoa kepada sang khaliq agar perhomohonannya dapat tercapai.
“Ya Allah...hamba memohon padamu. Jika wanita itu memang jodoh hamba, dekatkanlah hamba padanya. Jika tidak, berikanlah hamba wanita yang lebih baik darinya, dan berikanlah dia lelaki yang lebih baik dari hamba. Amin ya rabbal alamin...”
Entah siapa wanita di dalam doa Dewa.
Selepas tahajjud. Dewa menyalakan komputernya dan mulai merajut huruf demi huruf, kata demi kata, dan baris demi baris yang kemudian terangkai menjadi sebuah puisi indah penuh makna akan kekasih jiwa dari lubuk hati Dewa.
Tiba-tiba ponsel Dewa berdering, memecah keheningan pagi.
“Halo.”
“Halo... pagi cayang, cori ya kalo aku ganggu kamu”ujar suara di sana dengan desah manja.
“Gak papa, ada apa sih Sin?” sahut Dewa.
“Gini... Sintia mo minta tolong ma Dewa. Bisa ga kalo hari ini Sintia nebeng Dewa ke kampus? Boleh kan cayang?” Sintia mendesah manja.
“Oh iya, ya udah nanti Dewa jemput, tunggu aja!”
“Makasih ya cayang, see you...”
Sintia menutup teleponnya. Begitu pula dengan Dewa.
“Jengkel....”gumam Dewa.
Dewa sebenarnya tidak terlalu suka dengan Sintia. Gadis centil yang satu kampus dengannya, namun berbeda jurusan. Dewa memilih jurusan sastra Inggris, sedangkan Sintia mengambil jurusan psikologi. Ayah Sintia yang berprofesi sebagai pengusaha terkenal sangat dekat dengan ayah Dewa yang juga berprofesi sebagai seorang pengusaha. Sehingga, mau tidak mau, demi karir ayahnya, Dewa pun terpaksa berlaku baik dengan Sintia.
*****
Pagi yang cerah. Suasana kampus masih sangat sepi. Dan ketika Putri melangkahkan kaki ke pintu gerbang. Sebuah pemandangan yang sungguh memilukan hati Putri. Dia terkejut melihat Dewa datang bersama Sintia. Mereka berjalan bersama. Sintia menggandeng tangan Dewa dengan wajah penuh manja. Sementara Dewa masih tetap dengan muka cuek dan sinisnya.
Lama Putri memandang. Tiba-tiba.
“Dorrrrrr! Ngelamun terus dari tadi. Ayo put ke kelas.”
Teriakan Ika membuyarkan lamunan Putri
“Mari.” ajak Putri
Kemudian mereka berjalan ke kelas.
Di kelas. Saat semua mahasiswa/mahasiswi tampak serius mendengarkan penjelasan dosen. Tidak pada Putri, dirinya juga tampak serius merajut baris demi baris menjadi sebuah puisi. Dan tiba-tiba.
“Putri! Sedang apa kamu?” teriak seorang dosen.
“Eh, tidak pak” bantah Putri.
*****
Tok-tok-tok.
“Permisi.”
Suara Dewa membuat para aktivis yang sedang rapat menoleh padanya. Salah seorang dari aktivis tersebut berkata.
“Silakan masuk Dewa. Sudah dari tadi kami menunggumu.”
Dewa tersenyum sembari berkata.”Maaf saya terlambat.”
Kemudian dia duduk dan megikuti rapat. Matanya tampak serius. Namun sebenarnya tidak. Pikirannya menerawang jauh. Kemudian dia mengambil secarik kertas dan mulailah lagi kebiasaannya. Menulis puisi.
*****

“Putri....Bangun!”
“Bangun Putri! Ini sudah jam berapa? Nanti kamu terlambat lagi.”
Teriakan mama membangunkan Putri dari peraduan malamnya. Dia terkejut saat melihat jam tepat menunjukkan pukul 09.30.
“Oh my God.”
Putri segera berlari menuju kamar mandi. Tanpa sarapan dia pun langsung bergegas pergi ke kampus.
Sesampai di kampus. Putri berjalan dengan tergesa-gesa. Tanpa sengaja dia menabrak Dewa.
Brukkkkk.
Putri terkejut. Refleks dia berkata. “Ah, maaf. Dewa maaf ya.”
Putri pun langsung mengambil barang-barangnya yang terjatuh. Begitu pula dengan Dewa. Dia tidak menghiraukan Putri. Setelah mengambili barang-barangnya, Dewa pun langsung pergi tanpa meninggalkan sepotong kata pun. Mengiris pilu cinta di hati Putri. Putri pun pergi dengan meninggalkan setetes air mata. Tanpa mereka sadari, bahwa pada saat mereka mengambili barang yang terjatuh. Flashdisk mereka saling tertukar.
*****
Lelah. Namun akhirnya Putri menyelesaikan tugas skripsinya. Kemudian dia mengambil flashdisk untuk menyimpan skripsinya. Alangkah terkejut dirinya saat membuka flashdisk yang ternyata bukan miliknya. Melainkan milik Dewa. Putri menjadi penasaran. Satu per satu dia membuka data Dewa. Dan alangkah terkesima dirinya saat melihat puisi-puisi.
Di malam yang semakin hening
Seperti heningnya hati ini
Hatiku terlalu hening
Untuk bisa katakan bahwa aku jatuh cinta kepadamu
Sebagai lelaki ku akui jika aku pengecut
Aku pecundang
Bahkan aku lebih dari itu.
Untuk mengatakan cinta kepada seorang Putri
Andai sang putri tau betapa besar dan dalamnya
Cinta ini padamu

Tuhan...
Hanya padamu diri ini memohon
Berikan aku satu kekuatan
Tuk bisa katakan
Aku cinta padanya
Berikan aku takdir
Agar sang putri tahu
Bahwa aku adalah pangerannya
Putri...
Maafkan aku
Aku yang acuh padamu
Aku yang jahat padamu
Padahal diriku
Sungguh terlalu mencintaimu
Tapi mengapa aku seperti ini
Love you forever putri
*****
Dewa mengambil flashdisknya. Saat dia membuka flashdisk tersebut. Dia sangat terkejut. Namun dia tersenyum senang.
Kala fajar hendak datang
Lelah bulan tunggu matahari
Seperti lelahnya diri tunggu cinta darimu
Namun bulan terus sabar
Tapi aku lebih sabar
Dia yang kupandang
Dia yang kukhayal
Dia yang kuimpikan
Adalah dia yang kucinta
Dear Dewa...
Bukanlah semut yang langsung menyambar gula
Bukan gelombang yang langsung menyambar karang
Bukan pula badai yang cepat menerpa
Diri ini membutuhkah kata `proses`
Sehingga diri ini jatuh hati padamu

Awalnya sebuah rembulan
Rembulan yang sangat redup
Tatkala malam telah datang
Ku memandang dikau rembulan
Heran aku memandangmu
Karena engkau semakin bercahaya
Seiring cahaya cinta di dalam hatiku

Di malam yang hening. Hati Dewa dan Putri penuh dengan bunga-bunga cinta.
*****
Pagi yang cerah.
Saat Putri bertemu Dewa.
Dewa tersenyum.
Putri tersenyum.
Kemudian Dewa berkata,”Takdir memang indah.”
“Ya.” balas putri singkat.
Saat itu juga Dewa mengatakan cintanya kepada Putri. Putri menerima. Dan sekarang mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Cinta yang tersembunyi akhirnya terbongkar juga.
*****
Hari ini Putri terlihat begitu senang. Tentu ada alasan. Karena ternyata hari ini adalah kencan pertamanya dengan cinta pertamanya.
Hari yang menyenangkan.
Dewa dan Putri merasa puas setelah merajut kasih sehari penuh.
*****
Tit tit...
Ponsel Putri berdering. Rupanya ada SMS dari Dewa.
Ada saat tak tahu ada saat tahu
Ada saat menutup ada saat memmbuka .
Ada saat menangis ada saat tertawa
Namun hanya ada satu saat
Untuk aku mencinta
Dari: Dewa

Kemudian Putri membalas.
Biarkan aku terjun bebas
Menjelajah saat yang satu itu
Biarkan aku terus merasakan
Rasa kasih
Yang hanya satu kau miliki
Biarkan sepenuhnya menjadi milikku
Dari: Putri

Akulah pangeran
Untuk dirimu seorang

Akulah putri
Untuk dirmu seorang

*****
Malam yang dingin. Putri duduk di meja makan sembari tersenyum bahagia mengingat kata-kata Dewa tadi sdewag.
“Putri, aku akan menikahimu sayang.” Dewa berkata sembari memasangkan sebuah cincin berldewa di tangan Putri.
“Aku setuju sayang, tapi bagaimana jika kita menikah di kantor agama terlebih dahulu. Pestanya kita tunda saja sampai aku menyelesaikan program studi fisikaku.”
“Baiklah sayang...”Dewa tersenyum.
*****
Hari yang terindah.
Putri duduk di teras depan bersama mama dan bagas. Lama dia menunggu kehadiran Dewa. Rencananya, hari ini mereka akan pergi ke KUA untuk meresmikan hubungan mereka.
“Sore. Putri, tadi ada seorang lelaki yang meminta saya untuk mengantarkan surat ini pada anda. Sepertinya lelaki tersebut adalah lelaki yang biasanya datang ke rumah Putri.” ujar salah seorang tetangga Putri sembari menyodorkan surat tersebut.
Putri mengambil surat tersebut. Seperti dugaannya, surat tersebut dari Dewa. Putri membaca baris demi baris puisi tersebut. Kemudian tetes demi tetes air mata membasahi pipinya.
ASS WR WB
Dear Putri.
Sayang, seandainya dirimu tahu jika perihnya hatiku melebihi air mata yang menetes di pipimu.
Semua yang terjadi bukanlah keinginanku sayang.... Aku terpaksa menikah dengan Sintia demi menyelamatkan ayahku. Rupanya ayahku terlibat hutang dengan ayahnya Sintia. Ayahnya Sintia bersedia membebaskan ayahku dari pidana dengan syarat aku harus menikahi Sintia.
Maaf.
Maaf
Maaf.
Aku tak tahu berapa maaf yang harus kuucapkan untuk dapat menyembuhkan air matamu sayang.....
Setelah menikah dengan Sintia. Aku akan pergi ke Australia dan bekerja di sana.
Tenanglah sayang. Biar kita jauh, aku tetap akan mengirimkan puisi-puisi terindah untukmu.
Dan bacalah puisi ini sayang...
Kuharap ini bukanlah puisi yang terakhir
WASS WR WB

Cinta Ini Cuma Untuk-Mu
Subuh ini aku bilang cinta pada-Mu
Buat luas hati yang Kau berikan
Juga besar sayang yang Kau limpahkan
Dhuhur ini aku bilang rindu pada-Mu
Seperti rindu angin pada hujan
Dan rindunya langit pada bintang
Ashar ini aku bilang aku malu pada-Mu
Dari dosa yang kusembunyikan
Dari salah yang kubuat terang-terangan
Maghrib ini aku bilang aku butuh diri-Mu
Seperti butuhnya mawar pada kumbang
Dan butuhnya ikan pada kolam
Isya ini aku bilang syukur pada-Mu
Atas banyaknya doa yang Kau kabulkan
Juga berjuta nikmat yang Kau limpahkan
Tahajud ini aku bilang aku bahagia Kau sebagai kekasihku
Waktu ini hanya untuk-Mu
Sdewag malam hanya untuk pikirkan-Mu
Kepada seluruh dunia aku berani bersumpah
Jika cinta ini cuma untuk-Mu
Kuisi hidupku degan taqwa pada-Mu
Kubalut dengan dzikir dan doa
Kutabur dengan amal dan sedekah
Sebagai bekal pertemuanku dengan-Mu kelak
Di surga yang telah kau janjikan
Terima kasih Ya Rabb atas segala cinta-Mu
Cinta yang berikan aku kekuatan
Agar ku bahagia
Kala bertemu dengan-Mu
Kelak !
Insya Allah...

Kali ini puisi yang ditulis oleh Dewa benar-benar lain. Menyadarkan Putri bahwa cinta yang sebenarnya adalah milik Allah semata.
*****
Sudah 5 tahun semenjak Putri berpisah dengan Dewa. 3 tahun yang lalu Putri menikah dengan seorang lelaki bernama Rido. Rido 10 tahun lebih tua dari Putri. Rido lulusan dari IAIN tersebut bekerja sebagai kepala Kantor Urusan Agama. Sedangkan Putri yang telah lulus S1 dari FMIPA jurusan fisika bekerja sebagai guru SMA. Putri dan Rido hidup bahagia, terlebih setelah mereka dikaruniai seorang anak yang bernama Sifa.
Sudah lebih dari 5 tahun, Putri menunggu Puisi dari Dewa. Namun tak satupun yang datang. Sejak saat itu, Putri tidak tahu lagi akan kabar mengenai Dewa. Dirinya tidak berani bertanya kepada orang tua Dewa karena dia tak mengenalnya. Akhirnya, mereka pun menjalani kehidupan masing-masing.
*****

“Aaaaaagh......................”
Setiap malam Putri berteriak. Dirinya selalu dihantui mimpi buruk. Mimpi bahwa Dewa telah meninggal dunia, karena terjatuh dari pesawat.
*****
Paginya, saat Putri dan suaminya duduk minum teh sembari menonton televisi.

Satu lagi kecelakaan pesawat yang menimpa 100 penumpang dan 20 awak pesawat. Pesawat terjatuh di kepulauan Irdewa. Pesawat tersebut rencananya akan berangkat menuju Jakarta dari bandara Australia. Berikut daftar jenazah yang berhasil di evakuasi
1. Rena
2. Joko
3. Geisha
4. Dewa

Yaa Rabb....
Dewa... puisi terakhirmu akan selalu kusimpan.
Dalam hati Putri berdoa untuk Dewa.
*****

Read More......

Penyesalanku (Cerpen Putih Abu-Abu, ditulis kelas 2 SMA, saat masih labil :D )

“Lika, ayo kita tangkap kupu-kupu itu sama-sama, kalau sama-sama kan kupu-kupunya gampang ditangkap !”
“Lina…”
“Kenapa Lika ? Kamu kok jadi diam kaya gitu ?”
“Aku takut Lina kalau kamu ninggalin aku sendili sepelti kupu-kupu yang telbang jauh itu.”
“Aku gak akan ninggalin kamu Lika, kalena kita sahabat selamanya!”
“Benal ! Kita sahabat se..la..ma..nya..!”
***
9 tahun kemudian.
Kenangan itu seolah tiada arti bagiku. Rajutan keceriaan dalam bingkai kasih sayang kini telah berganti menjadi rajutan amarah dalam bingkai dendam. Dendam yang amat mendalam.
“Oh Tuhan! Aku tau ini salah, tapi aku hanyalah makhluk biasa yang luka jikalau hati ini diiris sembilu, terlebih sembilu itu adalah…” rintihku dalam heningnya malam.
***
“Rika… bangun…ini sudah jam 5.”
Teriakan mama membangunkanku dari peraduan malamku. Namun aku seolah tak berkutik, enggan untuk bangkit rasanya.
“Mengapa? Mengapa harus ada pagi yang selalu memaksaku bangun untuk pergi ke sekolah dan bertemu dengan…Mengapa harus ada Rina?” batinku.
Aku dan Rina. Kami adalah dua sahabat yang tak dapat terpisahkan. TK, SD, dan SMP kami pun sama. Tak hanya itu, kami juga selalu berada dalam kelas yang sama bahkan meja yang sama pula. Dimana ada aku disitu ada Rina, begitu pula sebaliknya. Kami selalu berdua dan bersama dalam mengenal dunia, dunia yang pada akhirnya membuat kami jatuh dalam jurang amarah.
***

SMAN I Banjarbaru.
Pagi ini sekolah tersebut begitu ramai, penuh canda , tawa, dan haru semua murid. Rasa yang seketika berbaur ketika mereka tak bertemu setengah bulan lamanya. Namun tidak bagi aku dan Rina. Sesaat ketika kami bertemu, tiada canda dan tawa bahkan haru, hanya tatapan sinis penuh amarah dan kebencian yang mempertemukan kami.
“Hai Rika! Lama nih gak ketemu gimana kabar elo? O ya Rik, gue denger katanya elo sekelas lagi ya sama Rina ?” sapa Dea. Dea adalah teman baruku sejak aku masuk di sekolah ini. Sejak di SMA, teman-temanku memang bertambah. Namun, sejak di SMA pula hubunganku dengan Rina mulai retak bahkan kini telah hancur lebur. SMA memang lain.
“Eh Dea ! Apa kabar ? Kalau gue sih kayanya kurang baik nih soalnya…ya karena yang elo bilang tadi, gue emang sekelas sama si gombal itu, aduh bo cape deh!”
“Udah deh Rik, gak usah dibawa cape, lagian elonya juga sih yang ngotot mau masuk alam segala, udah tau kalau si Rina itu juga pengen masuk alam.”
Sejenak aku berpikir, aku dan Rina memang punya selera sama, kami begitu senang dengan pelajaran IPA sejak duduk di bangku SD, kami pun sama hebatnya dalam pelajaran itu. Maka tak heran jika akhirnya kami memilih jurusan yang sama.
“Rik, ngapain lo bengong! Udah masukan tuh.”
“Hah…”
***
Suasana kelas begitu ramai. Penuh canda dan tawa dari orang-orang yang belum aku kenal. Tak ku sangka saat aku menoleh, Rina tepat berada di sampingku dengan amplop coklat di tangannya serta tatapan sinis.
“Rik ni buat lo!” Plak!!! Rina memukulkan amplop itu ke mejaku dan langsung pergi berlalu. Sungguh kebencian yang dalam. Kuambil amlop itu dan kumasukkan ke dalam tasku, tak berani aku membukanya sekarang.
“Selamat pagi anak-anak!”sapa Bu Titin.
“Selamat pagi bu…” balas semua murid alam 1.
“Anak-anak, sebelumnya ibu ingin memberitahu bahwa mulai sekarang ibu telah ditunjuk untuk menjadi wali kelas kalian.”
“Hore………………” sambut seisi murid gembira.
Bu Titin, beliau sudah dikenal sejak di kelas 10 sebagai guru biologi. Pembawaannya yang tenang, penjelasan yang begitu ramah dan mudah dimengerti serta senyum yang tak pernah lepas dari wajah beliau. Selain itu, beliau dikenal sangat sabar dalam menghadapi murid-muridnya, tiada rasa marah apalagi dendam sedikit pun. Sungguh berbeda dengan aku anak muridnya.
***
Hujan lebat semakin mencekam malamku. Kali ini aku beranikan diri untuk membuka amplop yang diberikan Rina tadi pagi. “Bismillah...”.
“Oh…Tuhan!”
Isi amplop itu semakin mencekam malamku. Malam yang penuh dengan dendam dan kebencian.
***
“Halo, bisa bicara dengan Dea?”
“Maaf, Deanya sudah tidur.”
“Halo, bisa bicara dengan Rani ?”
“Maaf, tidak ada yang namanya Rani di sini.”
“Halo, bisa bicara dengan Fitri?”
“Fitrinya lagi jalan.”
“… … …”
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan cobalah sesaat lagi.”
Kesal, tak satu pun teman yang dapat kuhubungi, hanya diriku sendirilah tempat aku menumpahkan semua kekesalanku. Bagaimana tidak, amplop itu berisikan foto-fotoku dan Rina semasa kecil yang telah dirobek-robek Rina, tanda bahwa diantara kami berdua seolah tiada pernah ada kata persahabatan.
***
“Tidakkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!”
“Rika…ada apa sayang? Rika tenang!”
“Ha…..” Ku tarik napas dalam-dalam sembari menegak air yang mama bawa.
“Rika,kamu tidak apa-apa sayang ?” kata mama sembari mengelus kepalaku.
“Gak apa-apa kok ma, cuma mimpi buruk aja.”
“Makanya, sebelum tidur kamu harus berdoa dulu ! Baiklah, kalau memang kamu tidak apa-apa, mama tinggal dulu ya…Selamat tidur sayang!”
Kucoba memejamkan mata, namun tak bisa. Mimpi itu selalu terlintas di benakku. Mimpi jatuh ke jurang sementara Rina hanya tersenyum-senyum saja melihat aku jatuh. “Oh Tuhan! Apa arti semua ini?” batinku.
Sesaat aku teringat saat aku mulai bertengkar dengan Rina, hanya karena seorang cowok. Namanya Rio, dia adalah ketua MPK sekaligus kapten tim basket Smansa. Rina sangat menyukai Rio dan berusaha untuk mendapatkannya, tapi ternyata Rio tidak suka dengan Rina. Rio lebih memilih aku. Aku pun tak dapat menolak ketika dia memintaku untuk jadi ceweknya tepat di hari valentine. Rina begitu marah padaku, dia memintaku untuk memilih antara dia dan Rio, artinya kalau aku memilih dia maka aku harus memutuskan Rio. Tentu aku memilih Rio, soalnya ni cowok keren banget. Tapi sayang, setelah sebulan kami pacaran, dia mutusin aku gara-gara mau pindah sekolah ke London, mau nyari bule kali…
Tak hanya itu, pertengkaran kami pun mulai menjadi-jadi, masalah yang begitu sepele pun sudah terlalu sering kami jadikan bahan untuk bertengkar. Yang jelas, mulai saat itu, tiada hari tanpa bertengkar bagi aku dan Rina.
***
Jumat yang membosankan. Apalagi hari ini giliran kelas 11 untuk senam pagi.
“ Rika…………” panggil Dea, Fitri, Rani, dan Nova bersamaan.
“Heiii………….” balasku.
“Rik, yo kita baris bareng di lapangan, udah mau senam nih!” ajak Rani.
Kami pun mulai berjalan ke lapangan, kulihat sudah ada Rina disana bersama teman-teman ganknya. “Puih…”
Brukkk!!!
“Aduh…sakit…” rintihku. Aku terjatuh tepat di depan Rina.
“Rika…kamu gak papa kan..?” Spontan temanku yang lain menolong.
“Rina! Kamu kan tadi yang merentangkan kaki saat Rika lewat, makanya dia jatuh, kamu sengaja kan?” tukas Dea.
“Hah!” Aku terkejut. Kutatap Rina yang hanya tersenyum sinis. Jadi, sekarang dia sudah berani bermain tubuh untuk bertengkar denganku. Darahku seketika naik dan sejurus kemudian.
Plakkk!!!
Panas, pipi Rina terasa panas. Tubuhnya hampir saja jatuh ketika tamparanku mendarat di pipinya. Merah…ia mengusap pipinya. Ada darah yang mengucur dari bibirnya. Ia meringis.
“Darah..?” ucapnya panik. Semua terkesima. Aku menampar Rina ?
“Jaga ya mulut ama tindakan lo itu! Gak semua orang bisa sabar kayak gue!” tukasku ketus. Mata Rina panas. Ia menangis.
***
Semenjak kejadian itu, Rina tak pernah lagi berani menantangku. Aku puas. Meskipun sekelas, kami tak pernah bertatap muka apalagi saling bicara. Mata kami seolah buta dan mulut kami seolah bisu. Bahkan yang paling parah, hati kami benar benar telah tertutup, tertutup untuk saling memaafkan. Menyedihkan .
“Rika…kayaknya hidup lo tuh gak bakalan tenang deh kalo elo masih aja berantem ama Rina.” nasihat Nova.
“Iya Rik, gue heran ama elo, bisa-bisanya elo tenang, kalo gue jadi elo udah masuk RSJ kali gue.” sambung Fitri.
“Eh, gini aja gimana kalo kita masukin pertengkarannya Rika ama Rina ke dalam rekor MURI sebagai pertengkaran yang lu…a…ma… dan dah…syat…banget….!” cetus Dea.
“Ah udah deh lo lo itu, semuanya gak ada yang bener, yang bener Rika itu harus minta maaf duluan ama Rina, perkara diterima atau kagak ya gak masalah yang penting dosa lu kan ilang, gitu…..” sahut Rani.
“Apa?????” aku terperanjat.
“Eh, gue tuh gak akan mau minta maaf duluan, dimana harga diri gua ditaruh, lagian harusnya tuh Rina yang minta maaf ama gue, Iiiihhhhhh…amit-amit deh gue.”
Seketika aku pergi meninggalkan teman-temanku di kantin sekolah. Mereka memang sering menasihati agar aku baikan ama Rina. Tapi…aku telah kehilangan kunci untuk membuka pintu hatiku dan meredam bara yang ada di sana.
***
“Hai Rika…” sapa Zia. Zia adalah teman se-gank-nya Rina.
“Hai…tumben lo negur.” balasku.
“Gak papa kok…cuman mau bilang kalau Rina baru aja jadian ama…”
“Sama siapa?”
“Sama Aldi.”
“Apa…Rina jadian ama Aldi???” dalam hati aku berkata.
Aldi adalah teman kami waktu masih SD. Dulu, aku dan Rina sering banget ngisengin Aldi soalnya dia tuh anaknya cengeng banget. Tapi sekarang, Aldi tuh berubah 360 derajat. Dia tambah ganteng dan gagah. Ada hati sih… sama Aldi, apalagi pas habis diputusin ama Rio. Tapi…gak nyangka deh, sedih ada juga kalau ternyata dia tuh beneran jadian ama Rina. ”Iiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhh!”
***
Teng…teng…teng…
Lonceng berbunyi tiga kali, tanda bahwa semua siswa Smansa udah bebas dari sekolah. Aku berjalan ke pintu gerbang untuk menemui jemputanku. Tapi… aku melihat Rina di parkiran motor ama Aldi, kayanya sih mereka mau pulang bareng. Jadi mereka…
“Rina !” spontan aku memanggil Rina. Baru kali ini aku memanggil namanya.
Rina menoleh dan berjalan ke arahku.
“Ada apa Rik?” tanyanya.
“Rin, gue mau bil…”
Rina menutup mulutku dengan tangannya.
“Jangan di sini Rik! Di sana aja! Lebih sepi.”
Rina mengajakku untuk berbicara di tempat yeng lebih sepi. Mungkin dia mengerti kalau aku bakalan ribut dengannya.
“Rin, elo tuh udah banyak bikin gue sakit hati dan kecewa. Gue gak tahan ama semua sikap elo ke gue. Gue gak bisa sabar Rin. Jadi, kalo elo gak mau gue ngamuk untuk yang kedua kalinya, mendingan elo tinggalin Aldi. Gue cemburu Rin, karena gue juga suka ama Aldi.”
“Tapi Rik…”
Kali ini aku yang menutup mulut Rina.
“TESERAH!!!” cetusku sinis.
***
Dalam perjalanan pulang, aku tiada henti-hentinya memikirkan Rina. Jujur, aku begitu kesal dengannya. Namun, sejenak aku berpikir mengapa harus ada permusuhan diantara kami. Lantas, apa gunanya persabatan yang sudah kami rajut bertahun-tahun?
Kuambil ponselku, waktu tepat menunjukkan pukul 3 siang. Aha! Seketika aku mendapat ide. Ide gila yang tak pernah mau aku pikirkan akibatnya.
Di ponselku kukirim sebuah pesan singkat yang berbunyi “Aku gak tau untuk apa Tuhan nyiptain kamu ke dunia ini dan mempertemukan kamu dengan aku. Tapi, menurutku kamu gak ada manfaatnya untukku, malah menyulitkan aku . Jadi, kenapa kamu gak pergi jauh aja dari aku untuk se…la…ma…nya…? seolah-olah kamu adalah kupu-kupu.
***
Sesampai di rumah, mama langsung memanggilku. “Rika…ada telepon untukmu.”
Kuambil ganggang telepon di tangan mama. “Halo…”
“Ri…ka… hiks...hiks..”
“Dea? Lo kenapa, pake acara nangis lagi ?”
“Hiks…hiks… Ri..Ri..”
“Dea…kalo ngomong yang benar dong…”
“Rina…Rik ! Rina…”
“Rina? Ngapain lo nangisin dia ?”
“Rina udah ma…”
“O…gue juga udah tau Dea, kalo Rina macarin Aldi, kok elo yang sedih sih, jangan-jangan lo suka lagi ama Aldi.”
“Ri…na.. . m…a…t…i…”
“????????????????????”
***
“Hiks…hiks…hiks…”
Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku bingung…Mengapa aku begitu egois, kejam, emosi dan dendam.
“Maafkan aku Rin…Aku yang... Hiks..hiks..hiks..”
Kabar terakhir yang aku dengar, Rina langsung mutusin Aldi, mereka bertengkar hebat, Aldi gak mau kehilangan Rina, sementara Rina gak mau kehilangan aku.
Rina mati karena tertabrak truk yang melintas saat dia menyebrang jalan. Menurut teman-teman yang melihat kejadian itu, saat hendak menyebrang ,Rina sempat membuka ponselnya, kemudian dia menyebrang sambil melamun memikirkan sesuatu. Memikirkan…
”Hiks…hiks…” Memikirkan pesan singkat yang kutulis untuknya…
“Maafkan aku Rina…”
Betapa bodohnya aku. Aku egois… hanya karena masalah sesepele itu, aku rela mengorbankan sahabatku, sahabat yang selalu menemaniku untuk mengenal dunia yang fana ini.
Sekarang, hanya penyesalan yang menemani hidupku. Sesal! Sesal yang amat mendalam. Namun, kejadian ini membuat bara di dalam hatiku meredam setelah aku meneteskan air mata kasih sayang.
“Selamat jalan… s…a…h…a…b…a…t”
***

Read More......